selembar sajak melayang jatuh
gugur dari pepohonan tanjung
serupa dedaun kenangan kering
rontok sebagai penanda musim
dan tahun demi tahun bergilir
tak pernah kembali, seperti arus menghilir
pulang ke pusar lautan, berulir
seperti musim menggurat garis tahun
lingkar hati batang jati. mengeras
oleh tanah padas. menua, terkubur di batu kapur
mengeras, seperti kisah-kisah purba
membeku dalam fosil-fosil jiwa
begitulah sajakku menjelma
arwah kelana mencari jasadnya
entah. ke mana: mungkin ke embun kata
menetes dari reranting tanjung
lalu jatuh bersama daunan kering
di sana sajakku terbaring
KOMPAS Minggu, 21 Mei 2006

Tinggalkan Balasan