kami tak percaya pada najis, sebab kami tidak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke tanah. di sini setiap pagi, kami menjadi pintu bagi yang tiba di lembar lidah hendak pulang ke hulu tanah. kami yang tiap hari memburu waktu, tiap pagi terduduk di lubang itu.
kami tak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke tanah. dan lubang di kamar yang pepat ini, selalu mengulang-ulang petuah: ke sana pula kau pulang, kelak di akhir hayat.
Dimuat di Kompas Minggu, 15 Juni 2008

Tinggalkan Balasan