ada garisgaris merah di tubuhku, katamu suatu ketika
di keningmu itu juga ada garisgaris, tapi tidak merah
di rambutmu yang gondrong itu ada ketombe,
ya, seperti rambutku yang pendek juga ada ketombe
kepalaku yang bersembunyi di ketiakmu yang bau itu
menyambung suara loko keretaku
suara keretamu berbeda, menghentakhentak seperti kuda
katamu suatu ketika
lalu kau kembali berkata
kenapa ada garisgaris merah di perut dan dadaku?
ah, sepertinya ada hantu yang ingin melukis di tubuhmu,
kataku
lalu kau kembali bertanya padaku tentang tidurku yang gelisah
kemudian aku menjawab;
gerimis berlompatan di teras belakang
pergilah kesana kalau ingin melihat patahpatah tariannya
kaupun akan melihat;
jendela luka berjajar,
kotakota kecil dalam sayatan senja,
gunung kapur yang runtuh tanpa puing,
bukitbukit selatan yang tertawatawa,
sejarah yang berjalan tertatihtatih,
angin yang tak henti mengetuk mendung,
uap teh panas yang turun dari tepi tutupnya,
ludahludah hitam kental di bebatuan,
suara merambat sepanjang pagar,
serta dedaun yang berkerisik di taman
telah banyak suara memanggil
meninggi dalam bisa kemarau
sungai musim hujan yang menyilaukan
ah, dimana lagi ku catat sejarah sedang musim tiada peduli
mungkin di gundukan tanah sejarah menjadi rajah
lalu kau kembali bertanya, kenapa seperti itu?
karena pertanyaanmu seperti itu, kataku.
Jakarta, 12 Juni 2003

Tinggalkan Balasan