o ibu,
rengkah sudah ladang-ladangku oleh kemarau
sungsang musim negeri ini semakin ngilu
burung sendu hilang kicau
menguning dedaun dan rumput jalu
o anak,
air mataku habis sudah
tercerap serat tikar sajadah
langit telah merebut kandung rahimku
jantung ibu telah renta oleh dukamu
air mataku habis sudah
tercerap serat tikar sajadah
langit telah merebut kandung rahimku
jantung ibu telah renta oleh dukamu
kulitku panggang kini, o ibu
dari bara di tungku dadaku
membakar rumah-rumah negeri
meledakkan kota-kota
gunung-gunung
kepala
biarkan keringatmu menguap
bersama airmataku, o anak
karena bapa telah lama pulang
ke halaman rumah masa kecilnya
tinggallah kita kini
saksi mata luka hati
bersama airmataku, o anak
karena bapa telah lama pulang
ke halaman rumah masa kecilnya
tinggallah kita kini
saksi mata luka hati
bapaku bapa kami, o ibu
biarlah kembali ke masa lalu
kulitku tembaga, tulangku perunggu
hangus oleh hamil waktu
darahku riam tak kunjung tumpah
dada telah koyak oleh amarah
tapi masih ada bunga di ujung senja
tempat kusimpan cita-cita, o anak cinta
mawar kusemai di sibak rumpun ilalang
agar merebak kelopaknya saat malam menjelang
dan di ujung daun di ujung duri
biar embun menjebak matahari
tempat kusimpan cita-cita, o anak cinta
mawar kusemai di sibak rumpun ilalang
agar merebak kelopaknya saat malam menjelang
dan di ujung daun di ujung duri
biar embun menjebak matahari
aku rindu, o ibu
amis manis air susumu
tapi sejarah telah menyapihku
dari buai belah dadamu
sedang kelaminku telah tanggal
oleh mesiu ambisi yang gagal
kuburlah, o anak dendam
kesumatmu ke liang rahimku
mawar sebentar lagi ranum
padanya kutitipkan hasratku
tempat kelak kaulihat lagi
ladang-ladangmu bertunas umbi
kesumatmu ke liang rahimku
mawar sebentar lagi ranum
padanya kutitipkan hasratku
tempat kelak kaulihat lagi
ladang-ladangmu bertunas umbi

Tinggalkan Balasan