kepada Merapi
berenang di kabut bara
di dapur, para ibu merebus magma
perhelatan sebentar lagi, semacam pesta
petasan dan kembang api
di bubung atap Merapi
dan selayaknya sebuah pesta
selalu tersaji air mata
jamuan istimewa di piala para dewa
satu demi satu para ibu
memunguti batu-batu di lantai kamar
lalu membacanya sebagai bait-bait dongeng
suatu zaman, saat api belum diciptakan
dan setiap hari hanyalah malam
hingga batu-batu dongeng
saling berebut dibacakan
dan percik api pun pendar
dari rengkah batu yang gegar
satu demi satu para ibu berhenti
memungut batu-batu dan pendar api
sebab malam telah mati
dan dongeng-dongeng lari sembunyi
kini para ibu bertanam melati, atau kembang api
pengusir jemu dan ringas hati
saat kabut menipu hari
seolah malam lahir kembali
tapi kabut kadang membara
serupa lautan merah nyala
itulah saatnya para ibu
memasang tungku
merebus magma
jamuan pesta
dewa-dewa

Tinggalkan Balasan