: Pram
musim tak pernah lunas meredam gelora
seperti tunggul jati di ladang-ladang Blora
meretas karang dan tanah kapur
berabad-abad tertulis di liat lumpur
tapi galur jati mengalir di urat nadi
tak pernah luntur oleh torehan sangkur
semacam jalan duri
mendaki terjal hati
galih yang mengeras
oleh jutaan musim yang buas
meresap putih kapur tanah padas
sedang daun yang gugur di musim ketiga
terperas merah di mangkuk kesumba
kanak-kanak negeri airmata
dibesarkan oleh amarah senja
sedang ilalang tak pernah mati oleh sabit
meski tumbuh dari rahim bumi yang sakit
serupa jati ranggas dalam kemarau
mendidih oleh amarah di hirupan nafas
menggigil oleh pedut upas
tapi konon, hidup harus dimenangkan
sedang tanah kelahiran
adalah milik hujan
biarlah gelora angin Blora
meresam di sekian rongga dada
juga di relung-relung tanah
akar ilalang yang kian rambah
seperti kisah-kisah yang kaugantungkan
di ujung-ujung ranting jati, kautanam
di ladang-ladang merah hati

Tinggalkan Balasan