1.
dan dada-dada pun lantak
bergegas, darah dan luh pun suntak
gemeretuk gigi mengunyah takbir
jantung yang bah oleh debar zikir
tak ada lagi gelak
hanya ngilu, belulang retak
bumi tersayat
kidung ribuan mayat
kaki-kaki tergupuh
nurani melepuh
ada yang tertatih
mencatat rintih
2.
sabda-Mu
gempa jantung-Ku
dan nama
yang berulang kali
kudengar
gaung di
dasar
palung
gugurlah
batu-batu
yang susun
dinding hati
runtuhlah
genting-genting
sirap penutup
atap sajak-Mu
dan di ujung senja
cekam pukau-Mu:
gentar isakku
3.
sayup-sayup
ada yang membaca kidung
megatruh dan dandanggula
desau lirih dan daras doa
membubung dari kerjapan mata
aroma luka
masih mencekam
ada yang coba
melipur duka
dan jiwa-jiwa yang ringkuk
di pelataran tanpa tenda
kuyup oleh luka tanya
di dinding puing
ada yang menggambar lidi
menghitung siapa pergi
takkan ada mimpi malam ini
hanya resonansi
getar dawai kecapi
berdenting
di embun pipi
4.
ada yang berdoa
di lorong kota yang memar
mencoba cerna
jejak-jejak yang terbaca
ada yang gemetar
menggerus remah bata
ada yang memompa nafas
ke mulut bocah
berebut detak jantung
dengan aspal pecah
ada bibir setangkup
merapal huruf
dan kaki tanpa sepatu
mengeja. langkah setapak
demi setapak
inikah pematang:
jalan itu?
5.
hujan semakin
asamkan luka
dan malam terulur begitu panjang
sepanjang pilu
sedangkan lapar dan naung tenda
tak bisa menunggu
cekat di pangkal gulu
ampak di hulu dada
rembes ke belik mata
lalu apa
yang lebih sadis
dari gerimis
saat amis tangis
merebak miris
lalu siapa
yang lebih tega
dari penyair ini
hanya bisa mencatat puisi
saat lapar dan gigil bayi
hanya dihibur lagu nasihat basi
di stasiun radio tanpa hati
yk, 27 malam – 28 pagi
Dimuat di Tabloid Apakabar Indonesia (terbit di Hongkong) – edisi 08/Th I/23 Juni – 6 Juli 2006

Tinggalkan Balasan