dering jam dini hari
luput menjarum igau
kau bangun tergagap
mimpi buruk berserak
di bibir asbak
“kita harus,” katamu
televisi tetap bergeming
menghujani tinju
kau bangkit
dari sprei bergambar peta
geografi Indonesia
penuh bercak
jamur batu
dan tumpahan kopi
kau rindu wajah petani
mencangkuli dada
menanam mimpi
“kita mungkin,” katamu
televisi telah tergadai
kau cungkili serpih cabai
dari celah geligi
asap sigaret mengepul
kau terkenang ladang tembakau
dan hujan pasir di hulu rantau
lalu kau teringat api
dan warna merah pipi
“kita mengapa,” katamu
kaulinting lagi segulung rokok
tembakau rajang tanpa cengkih
dan sesobek papir
dari kitab sejarah
(lalu kaujentikkan
sebatang korek api
terselip di sudut laci)

Tinggalkan Balasan