Saudara Anita yang baik, membaca tulisan Anda “Revitalisasi Komunitas Sastra, Perlukah?” (KR Minggu, 30 Juli 2006) saya jadi terusik oleh beberapa pertanyaan. Begitu krusialkah masalah komunitas sastra ini sehingga seolah-olah keberadaan komunitas sastra adalah sebuah keniscayaan baik bagi perkembangan kesastraan di negeri ini maupun bagi perkembangan seorang penulis (baca: sastrawan) pemula yang sedang menapaki jalan kesastraannya? Apakah berkumpul dalam sebuah komunitas tatap-muka akan serta-merta menjamin keberhasilan seorang pemula mengukirkan namanya di buku besar sastrawan terkenal Indonesia? Begitu pentingkah peran “sastrawan senior” dalam mengasah ketrampilan kreatif seorang pemula?
Bahwa beberapa nama besar dalam jagat sastra Indonesia lahir dari komunitas sastra memang tak dapat diingkari. Tetapi saya rasa Anda terlalu terburu-buru jika menyimpulkan bahwa semua sastrawan terkenal di negeri ini adalah produk dari komunitas sastra. Jika kebetulan beberapa sastrawan yang Anda kenal berasal dari, atau minimal pernah bergabung dengan sebuah komunitas sastra, hal itu tak serta-merta berarti semua sastrawan menempuh jalan yang sama. Tak sedikit sastrawan kita yang menempuh jalan kesastraannya sejak dini secara individual, secara mandiri. Belum lagi jika Anda mau melirik kisah-kisah sukses penulis-penulis besar dunia.
Saudara Anita yang baik, tulisan Anda sangat jelas menyiratkan pesimisme dan rasa kurang percaya diri dengan jalan sastra yang Anda tempuh baik secara pribadi maupun secara komunal. Di dalam tulisan itu Anda mengandaikan sebentuk hubungan ketergantungan di mana “sastrawan pemula” sangat tergantung pada faktor-faktor eksternal seperti sastrawan senior, campur tangan pemerintah, bahkan pihak penyandang dana. Kelihatannya Anda terlalu kuatir dengan keadaan komunitas sastra sehingga Anda lupa bahwa kerja kesastraan tetap sangat tergantung pada pergulatan pribadi seorang penulis itu sendiri dalam mengasah ketajaman jurus-jurus sastra dengan penggalian-penggalian kreatifnya sendiri. Seakan-akan di luar pendidikan formal sastra, tak ada jalan lain bagi para pemula kecuali membentuk atau bergabung dengan suatu komunitas sastra, atau menimba ilmu dari para seniornya.
Komunitas sastra yang Anda maksud tampaknya adalah bentuk komunitas tatap-muka di mana sekelompok sastrawan atau penggembira sastra bertemu secara ragawi dalam sebuah forum. Di situ kemudian dimungkinkan adanya diskusi, debat, gelar karya, interaksi kreatif antar-anggota komunitas tersebut. Para pekerja seni teater tentu sangat membutuhkan komunitas semacam ini, dan karena seni teater tak lepas dari seni kepenulisan, tak jarang komunitas teater mampu melahirkan penulis-penulis karya sastra yang baik. Hadirnya seorang sastrawan senior, atau sastrawan yang sudah berhasil menancapkan eksistensi kesastraannya dalam hiruk-pikuk dunia sastra, baik sebagai penggerak komunitas tersebut maupun sebagai tamu yang sengaja diundang dalam satu kesempatan untuk membabar ilmunya seolah menjadi jaminan bahwa seluruh karya yang dihasilkan oleh komunitas tersebut bermutu tinggi sehingga lebih mudah menembus saringan redaksi sastra di koran-koran Minggu dan majalah sastra. Memang akhir-akhir ini media cetak yang memuat karya-karya sastra gencar memajang karya-karya produk komunitas sastra, terlihat dari nama komunitas sastra yang tertulis di bawah karya sastra tersebut. Tetapi apakah dengan demikian lantas berarti para penulis “lone-ranger”, penulis yang bukan anggota komunitas sastra, tersingkir dari kancah kesastraan?
Sebuah komunitas memang memungkinkan anggota-anggotanya lebih intensif berinteraksi secara kreatif. Umpan balik dari sesama warga komunitas ditambah “bimbingan” dari narasumber (biasanya figur yang dituakan, dianggap senior, guru atau paling menguasai ilmu sastra), diharapkan dapat mempercepat kematangan sastrawi para anggotanya. Selain itu, dari gencarnya karya-karya berlabel komunitas sastra tertentu di koran-koran Minggu, saya menduga bahwa komunitas sastra tampaknya berhasil memicu produktivitas warganya, meskipun dugaan ini masih perlu diselidiki kebenarannya. Jika kita mau agak jeli melihat, komunitas sastra semacam ini bukannya tanpa kelemahan, apalagi jika sosok-sosok sentral yang dianggap senior, sosok-sosok guru dalam komunitas tersebut sangat dominan.
Saudara Anita yang baik, pengaruh sosok sentral dalam komunitas sedikit banyak mengandung resiko lahirnya epigon-epigon dengan gaya tulisan yang tak jauh-jauh dari gaya sang guru. Disadari atau tidak, gaya tulisan para penulis dari satu komunitas cenderung “seragam”, bahkan dianggap menjadi semacam ciri khas. Silakan Anda cermati sendiri karya-karya puisi maupun prosa produk penulis-penulis yang mengusung bendera komunitas tertentu yang bertebaran di koran-koran Minggu dewasa ini, tentu tak begitu sulit mengenali “benang merah” dalam karya para penulis dari komunitas yang sama.
Sebuah kerja sastra mestinya berangkat dari idealisme dan semangat individu. Komunitas sastra hanyalah wahana interaksi antar-individu, antar-idealisme yang terlibat di dalamnya. Artinya, sebuah produk sastra pada akhirnya tetap merupakan hasil pergulatan kreatif seorang penulis sendiri, baik itu pemula maupun senior. Sebuah komunitas bisa menjadi mandul atau kontraproduktif jika tidak berhasil memicu daya kreatif individual warganya, dan dalam kasus begini, bekerja mandiri di luar komunitas akan jauh lebih efektif. Toh, jika Anda melihat sosok-sosok penulis besar dunia, sebagian besar justru menekuni jalan sastranya sendirian. Sumber ilmu (ke)sastra(an) tak perlu terbatas hanya dalam bayang-bayang sosok literati, sastrawan-sastrawan senior, intelektual sastra itu. Kemajuan teknologi informasi mestinya dapat mendobrak mitos-mitos senior-pemula, dinding-dinding inferioritas yang menjadi tempurung bagi katak kreativitas (dalam komunitas) Anda.
Saudara Anita yang baik, jika Anda mau meluangkan sedikit waktu untuk melongok jendela internet yang jauh lebih murah daripada mengundang pesohor sastra dan lebih mudah daripada mengharap uluran tangan pemerintah, Anda akan menemukan banyak forum interaksi kesastraan di mana para pecinta sastra tanpa memandang pesohor atau sekadar penggembira sastra dapat bergaul tanpa sekat-sekat senioritas. Tak sedikit penulis-penulis profesional yang suka-suka membagi pengalaman kreatif dalam bentuk obrolan ringan melalui milis (mailing list) sastra. Komunitas-komunitas online ini memungkinkan terjadinya komunikasi yang bebas, egaliter, demokratis, dan lintas batas. Tak sedikit penulis-penulis serius yang lahir dari komunitas-komunitas maya berbasis tatap-layar semacam ini, baik penulis puisi, cerpen maupun novel. Beberapa karya penulis cyber ini bahkan telah diterbitkan baik dalam bentuk antologi atau buku individual maupun antologi komunal. Tentu saja Anda juga dapat mengunduh informasi kesastraan lain dari seluruh dunia melalui internet, meski kadang mensyaratkan penguasaan bahasa asing yang cukup untuk mencernanya. Minimal, internet dapat menawarkan jendela alternatif untuk menghirup hawa segar di tengah kesumpekan ruang komunitas sastra yang Anda keluhkan itu.
Baik komunitas konvensional berbasis tatap-muka maupun komunitas cyber berbasis tatap-layar, sama-sama menawarkan kelebihan dan kekurangan. Komunitas online di dunia maya tentu saja tidak praktis untuk berlatih seni teater, atau begadang semalaman sambil deklamasi puisi sampai pagi, meski ada juga komunitas cyber yang rutin menggelar “jumpa darat”, pertemuan tatap-muka, secara berkala. Ada baiknya kita mencoba memandang peran komunitas sastra secara proporsional baik itu komunitas sastra konvensional maupun cyber. Justru yang lebih penting adalah bagaimana idealisme dan semangat individu itu tetap menyala, dengan atau tanpa melalui wadah komunitas.
Saudara Anita yang baik, pekerja sastra di belahan dunia manapun adalah kaum minoritas, dan itu pada hemat saya bukanlah isu yang penting. Yang lebih penting adalah bagaimana kita sendiri menyikapi kerja kesastraan kita, bagaimana kita bekerja dengan optimisme dan rasa percaya diri tanpa bergantung pada uluran tangan pihak lain. Marilah kita bulatkan niat bersastra kita, kita kobarkan semangat dan idealisme. Kreativitas bukan hanya soal mencipta suatu karya melainkan juga bagaimana kita mencari solusi kreatif atas kendala-kendala yang kita hadapi. Salam kreatif.
Sebuah kerja sastra mestinya berangkat dari idealisme dan semangat individu. Komunitas sastra hanyalah wahana interaksi antar-individu, antar-idealisme yang terlibat di dalamnya. Artinya, sebuah produk sastra pada akhirnya tetap merupakan hasil pergulatan kreatif seorang penulis sendiri, baik itu pemula maupun senior. Sebuah komunitas bisa menjadi mandul atau kontraproduktif jika tidak berhasil memicu daya kreatif individual warganya, dan dalam kasus begini, bekerja mandiri di luar komunitas akan jauh lebih efektif. Toh, jika Anda melihat sosok-sosok penulis besar dunia, sebagian besar justru menekuni jalan sastranya sendirian. Sumber ilmu (ke)sastra(an) tak perlu terbatas hanya dalam bayang-bayang sosok literati, sastrawan-sastrawan senior, intelektual sastra itu. Kemajuan teknologi informasi mestinya dapat mendobrak mitos-mitos senior-pemula, dinding-dinding inferioritas yang menjadi tempurung bagi katak kreativitas (dalam komunitas) Anda.

Tinggalkan Balasan