liur merahmu, nenek
adalah dongeng kanak
yang mengutukku setiap malam
airmata tertahan di pangkal nafas
seperti pinang jambe yang kau kunyah
bersama kapur gambir
malam-malamku yang gigil
dan senyummu yang kadang hadir
inikah cinta yang kau ajarkan tanpa bahasa
hanya lewat keriput tanganmu dan tembang mantra?
di sini, tanah yang jauh dari mimpimu
ada yang mencoba menawarkan rindu
menguapkan tangisan diam-diam
ke ujung jemari
meski kau tak pernah ajarkan
tapi darimu aku belajar puisi
yang kau tuliskan setiap pagi
setiap kali kau sapa pekarangan kita
dengan sapu lidi
Dimuat di Jurnal Nasional, Minggu, 04 Mei 2008

Tinggalkan Balasan