kami sering berlindung di bawah lantai rumah. tak ada barel anggur atau aroma ragi yang menua. kami hanya perindu ruang kubur, tempat musim dan peluh mengasam, mengabur. o salju yang jauh, beku yang jenuh. kami rindu dingin yang memadamkan tungku-tungku, badai yang menumbangkan tugu-tugu batu.

di bawah lantai rumah, kami ternakkan sejuk kristal salju dan pusar angin rindu. lalu jadilah alasan kami saling berpeluk, berpeluh di dada kekasih, membuang ragu, memanen hangat sembari menghitung tasbih. kami ingin teguh bertetap, saling rindu di tiap lingkaran musim. hujan yang melicinkan batu-batu, atau kemarau yang merontokkan buah-buah randu.

Dimuat di Jurnal Nasional edisi Minggu, 16 November 2008.


2 responses to “Cellar”

  1. Avatar andi tafader

    Mas TSP, boleh aku link situsnya?
    Kalo mau belajar puisi ke Mas TSP, gimana caranya?

  2. Avatar tsp ke andi
    tsp ke andi

    silakan di-link, andi. halah… kita sama-sama belajarlah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *